Masjid Alwasii Unila akan memiliki wajah baru serta Menggali Nilai Peradaban Ke- Lampung-an

Lampung|Intelpostnews.com–menurut sumber salah seorang tokoh Lampung dan guru besar FMIPA Unila Prof. Admi Syarif, PhD. Pagi kemarin ketika menuju kampus Universitas Lampung, kita disuguhi pemandangan tidak biasa. Pagi itu berjejer lima buah alat berat di halaman masjid Al wasii, masjid kebanggaan masyarakatkampus tersebut. Setibanya di kampus, saya mendengar bahwa Rektor Universitas Lampung akan melakukan ground BREAKING, tanda dimulainya renovasi masjid tersebut. Pagi ini kabar dan foto Rektor Unila diatas alat berat yang menandai dimulainya renovasi telah beredar luas. Berbagai status berisikan ajakan berdoa dan mendukung pembangunan masjid al wasiii tampil di halaman sosial media. Mendengar rektor me-launching program renovasi masjid kebanggan civitas akademika universitas “làmpung” ini, tentu saja kita menyambut dengan gembira. Kemarin, setelah mendengar kabar akan segera dibongkarnya masjid tersebut, saya jadi membayangkan seperti apa sih masjid ini nantinya. Saya bergegas menuju masjid dan berhenti sejenak untuk mengambil beberapa foto masjid al wasiii sebagai kenangan. Hampir dapat diyakini bahwa semua civitas akademika dan masyarakat sekitar, khususnya yang beragama islam, memiliki kenangan dengan masjid ini. Menurut informasi, masjid yang sangat bersejarah ini dibangun sekitar 40 tahunan lalu, yang peletakan batu pertamanya masa kepemimpinan rektor Prof. Dr. sitanala Arsyad. Beliau adalah rektor pertama Unila dan putra daerah asal Negara Bumi Ilir, Lampung Tengah. Masjid ini begitu kokoh dan artistik berlapis marmer asli Lampung. Karenanya wajar saja apabila kita beribadah disini terasa sangat nyaman dan sejuk. Dari berbagai informasi, rencana biaya renovasi pembangunan masjid kali ini akan menelan biaya yang lebih dari 30M (baca: milyar) rupiah dan direncanakan akan selesai dalam waktu kurang dari 2 tahun. Pada tulisan ini, saya tentu saja tidak akan menyoroti rencana biaya atau waktu yang ditargetkan. Menurut sumber yang sangat mengapresiasi dan mengekplorasi renovasi masjid Al Wasii yang kelak diharapkan menjadi land mark baru kebanggaan civitas akdemika dan masyarakat Lampung. Momentum renovasi ini merupakan momentum yang sangatlah penting. Kita semua tahu bahwa ketika mendengar bangunan monumental seperti Piramida di Mesir, Taj Mahal di India selalu terbayang oleh kita tentang pelajaran “peradaban”. Karenanya sangatlah beralasan jika momentum renovasi ini haruslah kita gunakan untuk menghasilkan bangunan fisik baru yang memberikan nilai ketuhidan, nilai keindahan, peradaban dan nilai ke-tempatan (lokal). Saya jadi teringat, ketika mengunjungi masjid Nabawi beberapa tahun lalu, saya begitu sangat terkesan dengan design arsitektur gaya jazirah arab. Masjid kedua yang dibangun Nabi Muhamad, setelah masjid Quba, ini dalam sejarahnya menggunakan bata dan pelepah kurma sebagai atapnya. Meski kini telah di renovasi yang dikomandani oleh arsitek asal Jerman Dr. Ing. Bodo Rasch, tiang-tiang yang berkesan antik dan berkarakter tetap dipertahankan. Dengan renovasi ini, kita meyakini masjid al wasiii nantinya memang akan sangat megah dan indah. Namun demikian, kita tetap berharap. masjid ini tetap tidak hanya memiliki visi ke-tauhid-an dengan menampung lebih banyak jamaah tetapi juga visi untuk menjadi wadah pendidikan dan mewadahi berbagai aktivitas untuk membangun peradaban. Satu hal yang menjadi catatan saya, bahwa design masjid yang ditawarkan ini perlu mengadopsi nilai ke-tempatan (lokal wisdom) . Aspek nilai lokal pada suatu land mark saya pikir merupakan hal yang sangat penting. Masjid nabawi dengan inner court (taman dalam: Roudhoh) menjadikan adanya simbol lokal (privasi) yang ditunjukan. Pada al wasii yang baru nantinya, saya pikir juga dapat disempurnakan dengan menonjolkan nilai ke-tempat-an. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadopsi budaya setempat, arsitektur, seni, tatanan ruang dan sentuhan seni ornamen lokal. Adopsi nilai ini saya pikir akan mengekspresikan nilai peradaban keLAMPUNGan. Dalam beberapa tahun terakhir saya banyak berinteraksi dengan seniman ornamen lampung baik seniman kayu, lukisan maupun besi. Ternyata sangat banyak arsitek dan seniman yang berkreasi mengekspresikan seni lokal. Saya pikir, sangatlah mungkin panitia renovasi masjid ini juga membuka forum diskusi untuk menambahkan sentuhan lokal pada masjid ini agar lebih menunjukan nilai peradaban bumi lampung sai wawai. Akhirnya semoga renovasi masjid yang yang dilandasi dengan iman dan takwa ini dapat berjalan lancar. Dan semoga juga kelak keindahan dan kemegahan masjid ini dapat menambah kecintaan kita kepada bumi lampung dan universitas “LAMPUNG”. Terima kasih pak Rektor semoga sehat selalu , ujar nya. (Kar/Ar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.