Intelposnews.com – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong transformasi sektor pertanian di wilayah dataran tinggi melalui Program UPLAND. Program ini merupakan langkah strategis untuk mengembangkan pertanian di lahan terasering, marginal, dan potensial secara komprehensif dari hulu (on-farm) hingga hilir (off-farm) dalam satu kesatuan kawasan. Tujuannya tidak hanya meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendorong pertanian berkelanjutan.
Kabupaten Tasikmalaya menjadi salah satu daerah yang mendapatkan kepercayaan sebagai lokasi pengembangan Program UPLAND, khususnya untuk komoditas padi organik. Program ini telah berjalan sejak 2021 hingga 2024 dan akan dilanjutkan pada periode 2025–2026 dengan fokus yang lebih tajam dan cakupan yang lebih luas.
Wilayah Utara Tasikmalaya Jadi Sentra Baru Padi Organik
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Tasikmalaya, Tatang Wahyudin, mengungkapkan bahwa pengembangan Program UPLAND di wilayahnya dilakukan melalui pembentukan kawasan agribisnis padi organik yang terintegrasi dan berkelanjutan. Untuk periode 2025–2026, pengembangan akan difokuskan di wilayah utara Tasikmalaya, meliputi Kecamatan Cisayong, Sukahening, Pagerageung, dan Sukaresik.
“Wilayah utara memiliki potensi besar untuk pertanian organik. Lahan yang tersedia cukup terbuka dan cocok untuk sistem pertanian ramah lingkungan. Sejak 12 tahun terakhir, Tasikmalaya telah dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras organik yang diekspor ke luar negeri. Namun, pandemi COVID-19 sempat menghambat pengembangannya,” jelas Tatang.
Teknologi dan Infrastruktur Mendukung Pertanian Organik
Menurut Tatang, dukungan teknologi untuk pertanian organik di wilayah tersebut sudah cukup memadai. Petani telah terbiasa menggunakan metode tanam tanpa olah lahan, memproduksi kompos secara mandiri, serta memanfaatkan pestisida hayati yang ramah lingkungan. Selain itu, harga beras organik yang lebih tinggi dibandingkan beras konvensional menjadi insentif ekonomi yang signifikan bagi petani.
“Tren gaya hidup sehat dan berwawasan lingkungan kini telah menjadi standar global. Produk pertanian dituntut memiliki atribut aman dikonsumsi, bernutrisi tinggi, dan ramah lingkungan. Ini membuka peluang besar bagi petani kita untuk masuk ke pasar premium,” tambahnya.
Cakupan Program dan Komponen Pengembangan
Pengembangan kawasan agribisnis padi organik tahun 2025–2026 mencakup lahan seluas 630 hektar yang tersebar di 23 desa. Program ini melibatkan 3 Badan Usaha Milik Petani (BUMP), 37 kelompok tani (Poktan), dan total 2.732 petani aktif. Lima komponen utama yang menjadi fokus pengembangan meliputi:
- Pembangunan fisik: Infrastruktur lahan dan air, akses jalan tani, serta fasilitas pascapanen.
- Penguatan jaringan pemasaran dan kemitraan: Menjalin kerja sama dengan pelaku usaha, eksportir, dan pasar modern.
- Penguatan kelembagaan petani: Meningkatkan kapasitas organisasi petani agar lebih mandiri dan profesional.
- Pembiayaan pertanian: Akses terhadap kredit usaha tani dan skema pembiayaan lainnya.
- Peningkatan diseminasi dan adopsi teknologi: Transfer pengetahuan dan inovasi pertanian kepada petani.
Harapan untuk Masa Depan Pertanian Tasikmalaya
Tatang menegaskan bahwa Program UPLAND bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan pertanian Tasikmalaya. Dengan pendekatan kawasan yang terpadu dan berkelanjutan, diharapkan program ini mampu menciptakan ekosistem agribisnis yang tangguh dan inklusif.
“Kami berharap program ini dapat menjadi katalisator peningkatan produktivitas dan kualitas hidup petani. Sesuai dengan tujuan UPLAND, kami ingin mengurangi angka kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, dan menjamin mata pencaharian yang berkelanjutan,” pungkasnya.


















