Intelpostnews.com – Tasikmalaya, Jawa Barat,- Di tengah harapan warga Bojonggambir untuk jalan mulus dan program pemberdayaan yang mencerahkan masa depan, muncul kabar yang bikin dahi berkerut dan dompet rakyat terasa terkuras: dana desa diduga dialihkan untuk membiayai perjalanan umrah dua tokoh lokal. Iya, Anda tidak salah baca—UMRAH.
Menurut bisik-bisik tetangga yang makin nyaring, dana yang seharusnya dipakai buat bangun jembatan, pelatihan warga, atau sekadar tambal sulam jalan berlubang, malah diduga dipakai buat tiket pesawat, hotel, dan mungkin juga oleh-oleh kurma.
“Kami pikir dana desa itu buat desa, bukan buat jalan-jalan,” ujar seorang warga yang memilih jadi anonim, mungkin takut dicap ‘pengganggu ibadah’.
Dugaan ini bukan sekadar gosip warung kopi. Berdasarkan data yang dihimpun dari sumber-sumber terpercaya (dan beberapa yang cuma ‘katanya’), aliran dana desa Bojonggambir memang sempat ‘nyasar’ ke itinerary umrah. Entah bagaimana bisa lolos dari radar pengawasan, tapi yang jelas, warga mulai gerah.
“Kalau begini terus, nanti dana desa dipakai buat liburan ke Eropa. Kami cuma minta jalan desa nggak kayak arena off-road,” keluh warga lain sambil menunjuk jalanan yang lebih cocok buat motocross daripada motor bebek.
Kepala Desa Bojonggambir, saat dikonfirmasi via WhatsApp (karena telepon katanya ‘lowbat’), mengakui bahwa hal itu memang terjadi. Tapi tenang, katanya akan dievaluasi. Evaluasi yang semoga bukan sekadar rapat makan gorengan.
“Kami akan tinjau kembali agar tidak menyalahi aturan,” ujarnya singkat, padat, dan agak menggantung.
Umrah memang ibadah mulia. Tapi kalau dananya dari kantong rakyat, pertanyaannya bukan soal niat, tapi soal etika dan aturan. Masyarakat Bojonggambir kini menunggu kejelasan, bukan hanya klarifikasi, tapi juga tindakan nyata. Karena kalau dana desa bisa ‘terbang’ ke luar negeri, maka harapan warga untuk pembangunan bisa-bisa tinggal mimpi.


















