Kemarau Panjang, PDAM Tirta Sukapura Fokus Atasi Penurunan Debit dan Pipa Tua

Intelpostnews.com|Tasikmalaya , Jawa Barat— Musim kemarau yang telah berlangsung sekitar delapan bulan mulai berdampak terhadap kontinuitas pelayanan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tasikmalaya.

Perumda Air Minum Tirta Sukapura memastikan secara umum ketersediaan air bagi pelanggan masih relatif aman. Namun, penurunan debit sumber air menyebabkan distribusi di sejumlah wilayah, terutama kawasan dengan elevasi tinggi, mengalami gangguan.

Iri Sofyan Sauri selaku Kasubag Promosi dan Info Pelanggan Perumda Air Minum Tirta Sukapura mengatakan pada Senin (28/09/2026), kondisi sumber air saat ini masih relatif aman meskipun terjadi penurunan debit akibat musim kemarau.

“Untuk sumber, kita melihat masih aman, walaupun memang ada penurunan debit air. Akan tetapi, akibat dari penurunan debit air itu, untuk sebagian kecil di wilayah-wilayah yang elevasinya tinggi, otomatis pelayanan airnya terganggu,” ujar Iri.

Menurutnya, gangguan tersebut menyebabkan waktu pelayanan air di sejumlah wilayah tidak lagi berlangsung selama 24 jam. Pelanggan yang sebelumnya mendapatkan pasokan pada siang hari juga dapat mengalami perubahan waktu distribusi hingga malam hari.

“Ada yang tadinya 24 jam jadi tidak 24 jam. Ada yang tadinya misalnya siangnya menerima jam 10.00, jadi jam 14.00, atau misalkan jadi tidak ada, menerimanya malam,” katanya.

Untuk wilayah dengan kondisi lebih ekstrem, termasuk pelanggan yang tidak mendapatkan aliran air selama 24 jam, Tirta Sukapura menyiapkan armada tangki sebagai langkah penanganan sementara.

Distribusi air menggunakan armada tangki tersebut tidak hanya dilakukan oleh Tirta Sukapura, tetapi juga melibatkan sejumlah unsur lain, seperti BPBD, pemadam kebakaran, kepolisian, serta masyarakat yang memiliki armada tangki.

Menurut Iri, Tirta Sukapura menyediakan sumber air sekaligus terminal pengisian bagi armada tangki yang melakukan pendistribusian kepada masyarakat.

Untuk wilayah Tasikmalaya Selatan, salah satu terminal air berada di Cijoho, Singaparna. Sementara untuk wilayah lainnya, Tirta Sukapura juga menyiapkan terminal di Cisayong yang sumber airnya dinilai masih cukup tersedia.

“Armada tangki bahkan sampai saat ini sudah lebih dari 300 kalau tidak salah, 300 tangki. Jumlah satu tangkinya itu 5.000 liter,” ungkapnya.

Iri menjelaskan, angka tersebut merupakan akumulasi distribusi dari berbagai armada dan bukan hanya kendaraan milik Tirta Sukapura.

Bantuan air bersih juga tidak terbatas kepada pelanggan. Masyarakat umum yang membutuhkan air bersih dapat memperoleh bantuan distribusi, termasuk wilayah yang belum terjangkau jaringan pelanggan Tirta Sukapura.

“Di Bojonggambir juga tidak ada pelanggan di sana, tapi kita untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ketika dibutuhkan kita kirim,” ujarnya.

Peremajaan Jaringan Jadi Perhatian

Selain faktor penurunan debit sumber air, kondisi jaringan perpipaan juga menjadi perhatian Tirta Sukapura dalam menjaga kelancaran distribusi.

Iri mengatakan, bagian teknik terus melakukan penanganan terhadap berbagai gangguan jaringan, mulai dari kebocoran hingga persoalan instalasi yang berpotensi menyebabkan kehilangan air.

Menurutnya, peremajaan jaringan menjadi salah satu langkah yang dilakukan, khususnya pada wilayah yang masih menggunakan pipa galvanized iron (GI) dan telah berusia puluhan tahun.

“Di pipa GI itu banyak adanya korosif atau pengendapan di dalam pipa. Jadi air itu tersumbat,” jelasnya.

Selain kondisi pipa, katup pengatur tekanan pada jaringan juga menjadi salah satu bagian yang diperiksa karena dapat mengalami penyumbatan atau gangguan yang memengaruhi distribusi.

Peremajaan pipa dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi jaringan dan ketersediaan anggaran.

Sejumlah kawasan yang jaringan perpipaannya telah berusia lebih dari 20 tahun menjadi bagian dari perhatian, termasuk Perum Cisalak dan Perum Kotabaru.

Pipa lama secara bertahap akan diganti dengan pipa berbahan polyethylene (PE).

“Sedikit-sedikit pasti itu diganti dengan pipa yang sekarang itu pipa PE yang insya Allah untuk daya tahannya juga lama dan untuk sedimentasi tidak akan terjadi,” katanya.

Namun, terkait kapan seluruh wilayah yang saat ini mengalami pengurangan jam pelayanan dapat kembali mendapatkan pasokan air selama 24 jam, Tirta Sukapura belum dapat memastikan waktu secara spesifik.

Iri menyebut penanganan dilakukan bertahap melalui program pemeliharaan dan peremajaan jaringan setiap tahun.

“Saya tidak bisa memprediksikan misalkan setahun atau enam bulan atau berapa, tapi setidaknya kita lagi kerjakan untuk wilayah yang notabene pembangunannya sudah di atas 20 tahun,” ungkapnya.

Wilayah Elevasi Tinggi Jadi Tantangan

Persoalan distribusi air juga semakin kompleks pada wilayah dengan elevasi tinggi. Sistem jaringan perpipaan yang masih mengandalkan gravitasi menyebabkan tekanan air menuju wilayah tertentu menjadi terbatas, terutama ketika debit sumber mengalami penurunan.

Iri menjelaskan, penggunaan tenaga pendorong atau pompa untuk mengatasi persoalan tersebut tidak dapat dilakukan secara sederhana karena jaringan perpipaan antarkawasan masih saling terkoneksi.

“Ketika kita menggunakan tenaga pendorong juga, tekanannya itu akan melebar, jadi tidak menekan ke satu tempat, ke satu arah. Nantinya saling terkoneksi dan dikhawatirkan wilayah yang elevasinya tinggi yang tadinya kita ingin dorong, akhirnya lebih besar ke bawah,” jelasnya.

Meski demikian, Tirta Sukapura menyatakan penanganan terhadap keluhan pelanggan tetap dilakukan, khususnya pada wilayah yang mengalami gangguan distribusi.

Sementara itu, untuk pengaduan pelanggan, Tirta Sukapura memiliki call center pada masing-masing cabang. Pengaduan juga diarahkan langsung kepada cabang yang bersangkutan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

“Yang lebih efektif sebenarnya ketika pengaduan itu langsung ke cabangnya yang bersangkutan, terdekat, jadi bisa langsung ditangani,” pungkas Iri.