Plakat wisuda Tahfizh PPTQ AL-HUSNA DAN BAITUL QUR’AN Resmi Terdaftar di HKI

PRINGSEWU,— Pondok pesantren Tahfizhul Qur’an al-Husna – Podomoro dan Biatul Qur’an – Podosari sudah tidak asing lagi bagi kita di lingkungan Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung.

walaupun kedua pesantren ini tergolong baru, namun animo masyarakat sangat tinggi, terlihat dari peningkatan jumlah santri, bahkan ada santri yang dari luar provinsi Lampung, ( Padang Pariaman-Sum Bar, Jambi, Palembang, Indramayu, Yogjakarta, Jember-JaTim dan Banjar Masin-Kalimantan)

Kedua Pondok Pesantren Tahfizh Qur’an ini di rintis dan di asuh oleh Dr.KH.Abdul Hamid M.Pd.I al-Hafizh, Ketua RMI NU Kab.Pringsewu, kedua Pondok Pesantren ini menfokuskan diri pada program unggulannya pada “Menghafal al-Qur’an” walaupun tetap menjalankan kajian kitab kuning.

Sejak berdiri dari tahun 2016, Pondok Pesantren ini sudah ke 4 kalinya me wisuda santri-santrinya yang sudah menyelesaikan hafalan al-Qur’annya 30 Juz. Sejak awal sudah ada 40 an santri Hafizh-Hafizhah Lulusan kedua Pesantren Tahfizh ini.

Uniknya, santri yang di wisuda 30 Juz, di beri Plakat berbentuk Huruf “Ba’ “
Saat di temui di Pesantrennya sang Perintis dan Pengasuh ini menjelaskan bahwa alasan pemberian Plakat Tahfizh dengan menggunakan Plakat ber bentuk Huruf “Ba’ “, di antaranya adalah:

Pertama: Huruf Ba’ merupakan huruf pertama kali yang di tulis dan di ucapkan dalam ayat al-Qur’an, Syekh Sayid Bakari al-Makki bin Sayid Muhammad Syatho ad-Dimyati menjelaskan dalam kitabnya Kifayah al-Atqiya wa Minhaj al-Asyfiya, Ilmu Allah itu Terkandung dalam Huruf “Ba”

وَقَالُوْا اَوْدَعَ اللهُ جَمِيْعَ الْعُلُوْمِ فِي الْبَاءِ أَيْ بِيْ كَانَ مَا كَانَ وَبِيْ
يَكُوْنُ مَايَكُوْنُ فَوُجُوْدُ الْعَوَالِمِ بِيْ

  “Ulama ahli tasawuf
mengatakan, ‘Allah menitipkan seluruh ilmunya pada huruf ba, yaitu karena kekuasaan-Ku (bî) wujudlah segala sesuatu yang telah ada, karena kekuasaan-Ku pula terwujud sesuatu yang akan ada, dan adanya alam semesta adalah atas kekuasaan-Ku.”

Kedua: Huruf Ba Pertama kali diucapkan oleh Manusia, Syekh Sayid Bakari al-Makki menambahkan bahwa Ba’ merupakan huruf bibir, Melafalkannya menjadi sebab terbukanya mulut. Awal terbukanya mulut manusia adalah ketika mengucapkan kesaksian bahwa Allah adalah tuhannya, yaitu pada kata بلى sebagai bentuk kesaksian bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan, pencipta dan penguasa alam semesta.
( surat al-a’raf ayat 172)

Alasan ketiga, Huruf Ba’ dalam awal ayat basmalah selamanya dibaca kasrah.

Dalam bahasa Arab disebut dengan huruf jar/ kasroh.

Kata al-Jaru dalam buku M. Kholilur Rohman Lantunan Bait Sentuhan Ruh diartikan dengan “rendah hati atau tawadhu’ “. 

Maksudnya, seorang santri walaupun sudah hafal al-Qur’an 30 Juz tetap harus Rendah Hati, Tawadhu’ jika hal itu di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari, insyaallah hidup nya seperti huruf yang bertitik terakhir dalam al-Qur’an yaitu Huruf ” NUN ” harokatnya fathah artinya mulia dan ringan dalam segala hal. Tegas cak Hamid, sapaan akrabnya.

Alasan ke Empat: huruf Ba’ itu kan seperti perahu, bak/wadah, artinya: se orang santri harus mampu menampung semua lapisan masyarakat dari semua golongan, suku, budaya, bahasa, latar belakang yg ber beda-beda, namun tujuan nya tetap satu, yaitu satu titik di huruf Ba’, Allah SWT.

Lanjutnya, matahari saja tidak membeda-bedakan siapa yang mau di sinari, entah itu muslim atau non muslim, ahli ibadah atau durhaka semuanya di kasih cahaya oleh matahari, harus nya seorang santri meniru layaknya Matahari.

Beliau mengakhiri penjelasannya dengan menegaskan bahwa Plakat huruf Ba’ ini sudah di HKI kan ( Hak Kekayaan Intelektual), pada tanggal 9 agustus 2022 dengan nomor pencatatan ” 000367771 ” agar tidak di Plagiasi oleh siapapun dan Pondok Pesantren manapun.(KARTARINA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.